Pasca Lebaran, Ini 6 Hal Unik Belanja di Pasar Tradisional Saat Kecil

Yang merengek pengen ikut ibu ke pasar, mana suaranya?

0

Secara makna umum, pasar merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli. Di pasar, segala jenis perlengkapan yang dibutuhkan manusia tersaji lengkap dalam satu tempat. Dari mulai perkakas rumah tangga, buah-buahan, pakaian, bumbu dapur hingga kue-kue kering untuk Lebaran. Bentuk pasar pun bermacam-macam, dari mulai yang tradisional, semi modern, dan modern dengan segala fasilitasnya yang lengkap.

Khusus pasar tradisional, ada sederet kisah seru yang kerap ditemukan saat kamu ikut pergi ke pasar bersama ibu atau kerabat lainnya. Meski Lebaran sudah lewat, pasar tradisional masih tetap ramai menyediakan berbagai keperluan sehari-hari untuk para konsumen setianya.

1. Siap dengan sepatu boot karena pasar becek

descriptionportal.visitlazio.com

Bukan pergi ke pasar jika tidak memakai sepatu boot untuk membeli keperluan sehari-hari. Terutama pada musim hujan, pasar tradisional memang biasanya akan becek karena lantainya masih terbuat dari tanah. Para pembeli yang melintas jalan becek pada titik-titik tertentu biasanya akan kesulitan berjalan karena becek menyebabkan langkah mereka menjadi tersendat.

Yang tidak membawa sepatu boot harus siap kotor-kotoran karena sandal dan kaki sudah pasti akan terciprat tanah yang becek. Sudah becek, gak ada gojek, mana banyak yang ngejek!

2. Pedagang berlomba bercuap-cuap

descriptionfoodfuntravel.com

Wuih, pasar tradisional memang paling banyak didominasi oleh para pedagang yang berlomba-lomba mengeluarkan suara terbaiknya menjajakan dagangannya masing-masing. Memang sih tidak secerewet pedagang obat yang ngomongnya tanpa rem, tapi sudah cukup membuat kuping peling.

Setiap melewati lapak demi lapak, kuping harus dicekoki suara-suara cempreng para pedagang yang menyuruh mampir dengan gaya yang dilembut-lembutkan. Sekali mampir di satu lapak, maka sudah bisa dipastikan tidak akan bisa keluar dari lapak dengan tangan kosong. Trik pedagang zaman dulu memang jempolan dengan kata-katanya yang meyakinkan bak sales parfum berhadiah jam tangan.

3. Harus pintar menawar barang

descriptionhindustantimes.com

Jika sekarang orang membeli barang di supermarket tinggal mengambil seenaknya, maka orang zaman dulu harus memiliki kemampuan menawar barang jika tidak ingin rugi. Para penjual biasanya menyebutkan angka tinggi dari harga sebenarnya, sehingga para pembeli pun harus menyiasatinya dengan menawar harga.

Tak tanggung-tanggung, penawaran harga bisa mencapai setengah harga penawaran sebelum akhirnya benar-benar deal dengan satu harga yang disepakati bersama. Kalau sekarang kan banyak mall-mall yang memberikan diskon hingga 90% padahal harga aslinya dinaikkan 100% dari harga normal.

Zaman sekarang kan orang tidak melihat harga, namun melihat besarnya tingkat diskon. Jadilah pembeli yang bijak, jangan mau dibodohi oleh kaum kapitalis yang mengeruk keuntungan sebesar-besarnya melalui diskon harga gila yang benar-benar ‘gila’.

4. Waspada dengan copet

descriptionfluentin3months.com

Di sepanjang jalan gang di dalam maupun di luar pasar tradisional, akan selalu terpampang tulisan sederhana: “Awas hati-hati, banyak copet”. Memang, di dalam pasar tradisional akan banyak sekali orang-orang tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan keramaian untuk mencuri barang-barang orang-orang yang ada di pasar.

Terutama pada saat menjelang Lebaran lalu, sebagai konsumen harus ekstra hati-hati dengan menempatkan dompet dan uang di tempat-tempat yang aman dan tak terjangkau oleh tangan-tangan usil.

5. Banyak anak kecil nawarin ‘kantong kresek’

descriptionstandardpen.id

Sudah bukan hal yang aneh jika melihat anak-anak kecil di pasar tradisional yang berebut konsumen untuk membeli kantong kresek yang dijualnya. Ada beberapa yang memaksa dengan langsung memasukkan barang belanjaan ke kantong kreseknya, namun tak sedikit juga yang menunggu persetujuan konsumen. Anak-anak seusia itu sudah bisa mencari nafkah sendiri meskipun penghasilannya tak seberapa dan hanya cukup untuk jajan sehari-hari.

Dari seorang anak kecil, orang-orang zaman dulu sudah bisa memetik hikmah bahwa untuk mendapatkan sesuatu, harus diiringi dengan usaha dan ikhtiar.

6. Naik angkot penuh dengan barang belanjaan orang lain

descriptionmotorblitz.com

Ketika pulang, sudah bisa dipastikan akan ditemukan banyak ibu-ibu yang membawa barang belanjaannya yang bertumpuk-tumpuk di dalam angkot yang dinaiki. Akibatnya, bukannya tidur nyaman di atas bangku angkot, malahan harus duduk berhimpitan dengan kacang panjang, kangkung, bebek yang kepalanya nongol dan kadang nyosor, atau bau menyengat ikan-ikan yang menyiksa hidung.

Kesabaran adalah modal utama untuk bisa pulang naik angkot bersama barang belanjaan ibu-ibu yang menggunung.

Seru kan ya? Jadi, tidak ada alasan kan untuk tidak mengunjungi pasar tradisional meskipun kamu sudah tidak lagi menjadi bocah?

 

Iip Afifullah | idntimes.com

Leave A Reply

Your email address will not be published.